Senin, 28 Maret 2016

Penantian

PROLOG

Hiruk pikuk kehidupan mulai bersenandung dipagi hari ini. Berbagai aktivitas mulai mewarnai jalan perkotaan. Entah itu pejabat pemerintah, pekerja kantoran, perusahaan, para pedagang, mahasiswa-mahasiswi, dan lainnya. Meskipun gemericik air yang berjatuhan tanpa ampun tidak menjadikan penghalang bagi mereka mencari nafkah untuk keluarga.

Disudut perkotaan, tepatnya disebuah apartemen, Aku tersentak kaget melihat layar handphone kesayanganku yang sudah menunjukkan pukul 04.00 JST. Suhu pada pagi hari di musim dingin memang menusuk ke tulang. Dinginnya suhu di pagi hari kadang membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur. Namun, aku tetap melawan rasa malas itu untuk beranjak mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh.

Kisah ini dimulai setelah aku bertemu dengan seorang lelaki di stasiun shinjuku sekitar satu tahun yang lalu. Awalnya aku hanya sepintas melihat dia yang terlihat menunggu kereta. Aku kira dia orang Jepang, ternyata aku salah. Dia sama seperti aku, berasal dari Tanah Air Indonesia. Dan ternyata pertemuan dengannya mengubah kisah hidupku.

---------------------------------------------------------*****---------------------------------------------------------

Malam ini aku bernyanyi riang gembira menunggu teman-teman menjemputku. Yah seperti biasa lah, hanabi taikai, pesta yang mana dipersiapkannya beribu-ribu kembang api untuk merayakan pesta musim panas. Walaupun kebanyakan orang malam ini memakai yukata, tapi aku tidak terlalu suka memakainya. Entahlah! Hanya saja aku merasa tidak cocok memakainya.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba menjemputku. Ya, mereka adalah Eri, Emi dan Yuki. Kami berempat selalu bersama-sama sejak satu tahun aku berada di Jepang. Setelah mengunci rumah, kami langsung berangkat ke lokasi.

"Senangnya, kita bakal melihat kembang api sama-sama lagi tahun ini", Eri mulai mengeluarkan suaranya yang terdengar lembut.
"Iya, sudah 5 tahun kita bersama dan masih ada yang belum punya pasangan nih?", tanya Yuki.
"Ehhhhhhhh, kalian gak tau ya? Lisa kan naksir seseorang?", Emi spontan menjawab pertanyaan Yuki.
"Ehhhhhhhhhhhhhhhhh, kenapa kami gak tau", jawab Emi dan Yuki bersamaan.
"Hmmm, gak naksir sih cuman sepintas aja liat itu cowok di bus. Aku pikir dia juga orang Indonesia sama kayak aku. Gak lebih kok", jawabku.

Mereka bertiga sepertinya tidak terlalu mau tau dan langsung percaya saja apa yang aku ucapkan. Mereka juga langsung membahas topik yang lain, entah itu tentang takoyaki, dekorasi lokasi festival yang kami lihat siang tadi, atau sepintas membicarakan cowok. Kami memutuskan datang ke festival tahun ini di Sumida river.

Canda tawa riang gembira pun mewarnai perjalanan kami menuju festival. Sesampainya di Sumida river, kami berempat langsung terpesona dengan cahaya ratusan chuochin yang menyinari tiap tepi-tepi jalan. Meskipun kebanyakan orang-orang terlihat memakai, kami berempat sepakat untuk memakai baju biasa saja karena kami tipe cewek yang tidak ingin ribet.

Entah itu kebetulan atau memang takdir yang mempertemukan kami kembali.
Setibanya di Sumida, kami sangat menikmati festival kembang api tahun ini. Banyak orang-orang yang berjualan maupun mengikuti games yang ada difestival. Eri dan Emi terbawa suasana games tembak menembak dan beberapa games lainnya.

"Lis mau ikut nggak beli makan? Kayaknya mereka berdua nggak bisa diajak. Tuh pada serius banget mainnya", kata Yuki
"Aku sama Eri nitip aja yah, samain aja makanannya sama kalian", celoteh Emi sambil bermain.
"Oke oke. Kita kumpul di kursi deket air mancur ya. Jangan kelamaan mainnya ntar makanannya kami abisin", jawabku iseng.

Aku dan Yuki bergegas membeli 4 porsi takoyaki yang tempatnya nggak jauh dari lokasi tempat permainan. Setelah melewati antrian yang lumayan banyak, kami langsung menuju air mancur menyusul Eri dan Emi yang masih nggak tau udahan atau belum mainnya. Dan ternyata dugaan kami salah, Eri dan Emi sudah ada ditempat duluan.

"Lama banget sih, muter-muter liatin cowok ya?", Eri langsung membully.
"Ya nggak lah, kan Lisa udah ada suka sama cowok", jawab Yuki sambil senyum-senyum ke arahku.
"Namanya juga Lisa, kalo udah suka sama cowok yah stay deh sama cowok itu aja, nggak kayak Eri", balas Emi membully Eri.

Aku hanya tertawa meliat kelakuan temen-temenku yang saling mengejek tanpa ada yang marah. Walaupun baru satu tahun kami bersama tapi itupun sudah terasa sangat lama buat kami mengenal satu sama lain.

"Eh temenku mau kesini, boleh nggak nih? Udah lama sih nggak ketemu dia semenjak dia pindah", tanya Yuki
"Temen apa temen nih? Cowok apa cewek? Orang mana?", tanya kami bertiga serempak.
"Yah sebenarnya bukan temen sih tapi udh kayak kakak aku, ya cowok, dia sebenernya Orang Indonesia tapi udah lama tinggal di Jepang", jawab Yuki.
"Yosh, panggil aja dia kesini. Nggak apa-apa kok. Malah rame ada cowoknya, ya kan temen-temen?", Eri pun kembali berucap dengan kata-katanya yang selalu frontal.
"Iya nggak apa-apa kok Yuki-chan, panggil aja dia kesini", jawabku.
"Arigatou minna", jawab Yuki yang terlihat senang.

Yuki pun langsung menghubungi temannya itu dan memberitahukan lokasi kami berempat padanya. Sesaat sebelum temannya Yuki datang, sepintas aku meliat sesosok lelaki yang familiar bagiku. Iya, cuman sepintas dan aku pun tidak terlalu memeperdulikannya. Entah itu kebetulan atau memang takdir yang mempertemukan kami kembali.

*to be continue*

Senin, 06 Juli 2015

Memorian of The Committee Bazar Ramadhan 2015


Berbagi pemikiran. . .
Berbagi pengalaman. . .

Semuanya kita alami selama kegiatan berlangsung. . .
Entah itu canda tawa maupun duka lara. . .
Semuanya kita lewati bersama

Mengarungi lelahnya fisik dan psikologis demi kesuksesan acara. . .
Mencoba belajar akan pentingnya management time. . .
Baik itu antara kegiatan organisasi dan bidang akademika

Saling berbagi. . .
Saling melengkapi. . .
Saling menghibur. . .
Saling menyemangati satu sama lain. . .

Itulah kenangan kita yang akan teruskan tertulis dibenak ini
Kenangan kita bersama. . .
Bersama membangun suksesnya acara bazar Ramadhan 2015

Terima kasih kerabatku. . . .

Kamu!!!

Aku pikir. . .
Aku sudah mulai menghilangkan perasaan itu
Tapi ternyata aku salah

Memang hari demi hari berlalu tanpa terasa
Memang benar aku selalu menyimpan perasaan ini tanpa membiarkanmu tahu meskipun hanya sedikit
Memang benar aku takut bersua akan perasaan ini
Memang benar aku takut kau menjauhiku

Tapi tahu kah engkau?
Dalam kesendirian ini aku tetap berusaha
Berusaha utuk memantaskan diri untukmu
Berusaha lebih memperbaiki diri untuk lebih baik lagi
Bukan karena untukmu. . . 
Tapi juga untuk diriku sendiri. . .

Dan jika pada akhirnya nanti aku tetap tidak bersamamu
Maka itulah yang terbaik untukku
Terbaik untukmu

Dan aku bahagia. . .
Bahagia karena kau pernah singgah dihati ini
Bahagia kau menghiasi dan mewarnai hari-hariku

Meski sebentar. . .
Meski sesaat. . .
Namun aku tetap bahagia
Terima kasih untukmu yang sudah singgah dihatiku

Selasa, 09 Desember 2014

Sebuah pilihan

Suatu pagi yang mendung, awan gelap mulai menyelimuti sebuah kota. Mendung yang sangat menguji seberapa besar keinginan seseorang untuk menata masa depan. Setiap tetes hujan diiringi hembusan angin dingin begitu menggoda. Akankah dia tetap berada dirumah dengan perpaduan kehangatan antara tempat tidur dan selimut tebal? Atau segera beranjak dan menerjang hujan demi sebuah ilmu yang akan menerangi jalannya dimasa yang akan datang? Dia memilih untuk beranjak dari tempat tidur, mandi, sarapan pagi dan memulai harinya dengan sebuah tekad untuk menuntut ilmu ditengah-tengah hujan yang terus jatuh membasahi permukaan bumi. Dia berkata "Hei tempat tidur dan selimut yang begitu hangat, mungkin saat ini kalian bagaikan nikmatnya surga dunia ditengah musim penghujan. Namun kalian tak akan selamanya menjadi surga dunia jika aku terus bersama kalian dan mengabaikan target masa depan yang sudah aku canangkan". Beberapa saat kemudian, dia sudah siap dengan pakaian seragam kampus yang rapi. Dia berangkat ke kampus dengan mengendarai honda matic bermerk vario dan menggunakan jas hujan yang dibelinya menjelang musim hujan. Tidak peduli lebatnya terjangan hujan yang dilaluinya, dia terus maju demi sebuah ilmu. Tidak peduli betapa menggodanya berada dirumah dan tidur dengan selimut yang melindunginya dari dingin. Dia terus berjuang dan berjuang demi hidup yang lebih baik. Dia yakin dan dia percaya bahwa tidak ada sebuah kerja keras yang berakhir dengan sia-sia.